//
you're reading...
Contemplation Corner

[enlightenment]: Teriakan & Makian adalah Cara Baru Untuk Membunuh

HIPOTHESIS ala Shita:

”Teriakan dan Makian adalah Cara Baru Untuk Membunuh ”

Pas nulis artikel ini, sumpah saya gi nggak lagi bikin thesis lhoh! Sumpeeee!

(duuh guaya! Nulis thesis? Hahaha! Inget kata Pak Sri Gunawan, sang dosen pembimbing di MM Unair tentang diriku pada Amalia?  “Lhoh kamu kenal Shita? Shita yang bangkit dari kubur setelah mati surinya dari MM angkatan XX?Hahaha!”)

Jadi hipothesis diatas bukan berarti 100% valid, tapi bukan pula berarti hipothesis ini merupakan kesimpulan asal di pagi hari,..

Hasil dari pemikiran singkat saat ”rutinitas di pagi hari” alias….heuheu,..weeeeks!

Sesungguhnya ini adalah hipothesis yang kusimpulkan setelah membaca berbagai artikel, juga hasil dari pengamatan pribadi pada lingkungan sekitar selama beberapa tahun terakhir dan juga hasil dari eksperimen kecil-kecilan yang sempat saya jalani beberapa kali. (NOTE : obyek yang digunakan untuk eksperimen dijamin 100% bukan manusia lhoh. DIJAMIN (^_^) ”)

Dukungan pertama atas pemikiran awalku saya dapatkan dari salah satu artikel yang kubaca dari email seorang teman. Email yang bercerita tentang pengaruh Kata-Kata Negatif terhadap Air yang ditulis dalam buku “The Hidden Messages in Water” karya Masaru Emoto. Seseorang tersebut bahkan menyempatkan diri untuk melsayakan percobaan yang dicontohkan di halaman 31 dengan hasil sebagai berikut :

Tempatkan nasi sisa yg sudah didiamkan semalaman kedalam 2 toples dgn jumlah yg sama, kemudian ditutup rapat.

  1. Masing-masing toples di tempelin label yg berisi kata2 sbb:
  2. Toples A : ” Kamu Pintar, Cerdas, Cantik, Baik, Rajin, Sabar, Saya Sayang Padamu, Saya Senang Sekali Melihatmu, Saya Ingin Selalu di dekatmu, I LOVE YOU, Terima Kasih.
  3. Toples B : ” Kamu Bodoh, Goblok, Jelek, Jahat, Malas, Pemarah, Saya Benci Melihatmu, Saya Sebel Tidak mau dekat dekat kamu “
  4. Botol 2 ini diletakkan terpisah dan pada tempat yg sering dilihat dan seseorang tersebut pesan pada istri, anak, dan pembantunya untuk membaca label pada botol tersebut setiap kali melihat botol2 tersebut.
  5. Dan inilah yang terjadi pada nasi tersebut setelah 1 minggu kemudian :
KANAN

Nasi dengan kata-kata makian hasilnya : Busuk, cepat berwarna hitam, bau tidak sedap

KIRI :

Nasi dengan kata-kata positif/pujian baunya seperti ragi berwarna putih kekuningan

Nasi dalam botol yg di bacakan kata-kata Negatif ternyata cepat sekali berubah menjadi busuk dan berwarna hitam dgn bau yg tidak sedap. Sedangkan nasi dalam botol yg di bacakan kata-kata positif masih berwarna putih kekuningan dan baunya harum seperti ragi.

Menurut penelitian yang dilsayakan penulis, terdapat fakta yang sangat menarik. Yaitu ada yg mencoba dengan tiga botol dimana botol ketiga tidak di beri label apa-apa alias diabaikan/tidak diperdulikan, dan ternyata beras dalam botol yang diabaikan membusuk jauh lebih cepat dibandingkan botol yang dipapar kata-kata negatif.

Meskipun sudah memiliki diagnosa yang sama dengan pemikiran yang ada di dalam buku tersebut, tak elak pemaparan yang ada di dalam buku itu membuat cakrawala berpikirku terbuka lebar.

Coba kita bayangkan apa yang akan terjadi dengan anak-anak kita, pasangan hidup kita, rekan-rekan kerja kita, dan orang-orang disekeliling kita, bahkan binatang dan tumbuhan disekeliling kita pun akan merasakan efek yang ditimbulkan dari getaran-getaran yg berasal dari pikiran, dan ucapan yang kita lontarkan setiap saat kepada mereka.

Jika hingga disini, anda yang membaca catatan ini masih merasa kurang setuju dengan hipotesis saya,…

Coba kita diskusikan tentang artikel yang juga saya dapatkan dari email seorang sahabat. Dalam email itu, diceritakan bahwa salah satu kebiasaan unik yang ditemukan di penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon, yang letaknya di Pasifik Selatan.

Nah, penduduk primitif yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang menarik, yakni meneriaki pohon. Untuk apa? Kebiasaan ini ternyata mereka lsayakan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak.Inilah yang mereka lakukan, jadi tujuannya supaya pohon itu mati. Caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu. Lalu, ketika sampai di atas pohon itu  bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lsayakan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari. Dan, apa yang terjadi sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya mulai mengering. Setelah itu dahan-dahannya juga mulai rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan mudah ditumbangkan.
Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif ini
sungguhlah aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilsayakan terhadap mahkluk hidup tertentu seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya.
Akibatnya, dalam waktu panjang, makhluk hidup itu akan mati.

Unik kan?

Have you already opened your mind to this bizzare idea?

That yelling with harsh words to living things will kill them in slow process.

Oke, sekarang mari kita bahas.

Apakah sih yang bisa kita pelajari dari kebiasaan penduduk primitif di kepulauan Solomon ini?

Yang jelas, ingatlah baik-baik bahwa setiap kali Anda berteriak kepada mahkluk hidup tertentu maka berarti Anda sedang mematikan rohnya.

Pernahkah Anda berteriak pada anak Anda?
Ayo cepat!
Dasar lelet!
Bego banget sih! Begitu aja nggak bisa dikerjakan?
Jangan main-main disini!
Ih,….Berisik!

Atau, mungkin Anda pun berteriak balik kepada pasangan hidup Anda karena Anda merasa sakit hati?
Saya nyesal kawin dengan orang seperti kamu tahu nggak diri!
Bodoh banget jadi laki/bini nggak bisa apa-apa!
Aduuuuh, perempuan / laki kampungan banget sih!?

Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya:
Stupid, soal mudah begitu aja nggak bisa! Kapan kamu jadi pinter?!

Atau seorang atasan berteriak pada bawahannya saat merasa kesal :
Eh tahu nggak?! Karyawan kayak kamu tuh kalo pergi dari saya bakal nyesel!
Ada banyak yang bisa gantiin kamu!
Sial! Kerja gini nggak becus? Ngapain gue gaji elu?

Ingatlah! Setiap kali Anda berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk kepulauan Solomon ini. Bahwa mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai. Mau tidak mau, sadar tidak sadar sesungguhnya kita juga sedang mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita dengan orang  tersebut.

Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita sebenarnya secara perlahan-lahan pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan kita dengan manusia ataupun mahluk lain .

Jadi, ketika ada masalah dan masih ada kesempatan cobalah untuk berbicara dengan baik-baik, cobalah untuk mendiskusikan mengenai apa yang Anda harapkan. Jangan malah ngamuk dan memaki dengan kata-kata kasar karena selain tidak akan menyelesaikan masalah juga akan merusak hubungan yang sudah terjalin.

Coba kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Teriakan, hanya kita berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, bukan? Nah, tahukah Anda mengapa orang yang marah dan emosional, mengunakan teriakan-teriakan padahal jarak antara mereka hanya beberapa belas centimeter.

Mudah menjelaskannya.

Pada realitanya, meskipun secara fisik mereka dekat tapi sebenarnya hati mereka begitu jauh. Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak! Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai serta mematikan roh orang yang dimarahi karena perasaan-perasaan dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki. Kita berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas.

Jadi mulai sekarang ingatlah selalu.

Jika kita tetap ingin roh pada orang yang kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan-teriakan.

Tapi, sebaliknya apabila Anda ingin segera membunuh roh orang lain ataupun roh hubungan Anda, selalulah berteriak.Hanya ada 2 kemungkinan balasan yang Anda akan terima. Anda akan semakin dijauhi karena terkenal dengan sebutan pemarah. Ataupun Anda akan mendapatkan teriakan balik, sebagai balasannya.

Isn’t that ring your bell?

Kriiiiiiiiiing!!!!!! Hello????

Selama kita hidup sebaiknya kita selalu-lah sadar dan bijaksana dalam memilih kata-kata yg akan keluar dari mulut kita, termasuk mengendalikan pikiran-pikiran yg timbul dalam batin kita kecuali anda memang berniat untuk membunuh orang lain dengan cara ini.

Jadi? Hipotesa saya TERBUKTI.

Memaki dan berteriak dengan kata-kata kasar/negatif memang bisa mematikan (termasuk menggosip dan menghujat orang lain lhooooooo)

Heheheu,…

Bagaimana menurut pendapatan anda? (^_^)

Jadi kebayang untuk masang iklan di koran kuning.

SIAP DISEWA.

PEMBUNUH BAYARAN DENGAN METODE PALING MUTAKHIR

MEMBUNUH DENGAN CARA MEMAKI DAN BERTERIAK.

KETERANGAN LEBIH LANJUT, HUBUNGI : 08XXXXXXXXXXXXX

Heheheheu. Berani jamin deh, pembunuhnya bakal cepet mati juga. Mau tahu kenapa? Mati gara-gara tekanan darah tinggi atau serangan jantung karena marah mulu,…hahahaha!

Jangan diterusin mulu lho,..marah-marahnya apalagi pake maki-maki. Ya?

Berangkat dari keprihatinan dan upaya menggungah diri sendiri untuk tidak memaki, menghujat, membentak, menggosip yang mampu meracuni diri sendiri dan orang lain

| Surabaya | Jemursari | January, 30 2009 | 01.00 am | mediating with the universe|

Advertisements

About shitadewi

D.Rishita Dewi | @shitadewi Shita Dewi, panggilan akrab dari Dian Rishita Dewi, adalah seorang yang selalu jatuh cinta pada kehidupan yang ada di sekelilingnya, baginya semesta adalah sumber inspirasi yang tak kunjung habis untuk dicermati, dipahami, diselami dan dituliskan kembali,… Dengan menulis, Shita Dewi yang lahir di tanggal 11 Januari 1977 ini percaya bahwa menulis adalah bagian dari penyelarasan antara jiwa dengan raganya, antara hati dengan alam pikir dan imajinasinya, penyeimbang ditengah kegiatannya sebagai wanita karir yang mengabdi di salah satu perusahaan Astra Group, certified hypnotherapist dan trainer seminar-workshop hypnotheraphy dan part-timer coach Marketing, konselor Tarot serta sebagai seorang istri dari George Erlangga Siregar. Sejak kecil Shita Dewi memilih menulis sebagai sarana untuk mewujudkan impian masa kecilnya meskipun hanya dalam bentuk buku harian yang beberapa diantaranya sempat dimuat di majalah sekolah dalam bentuk cerita pendek, namun secara tak terduga justru impian masa lalu yang tertuang dalam bentuk cerita itu telah mewujud dalam kehidupan nyata yang kini dia alami. Tak heran jika, Shita Dewi ingin tetap menulis, dengan keyakinan bahwa menulis akan membawanya pada perwujudan dari impian-impiannya. Melihat, Berpikir, Inspirasi, Berbuat, Menjadi

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

September 2010
M T W T F S S
« Jan   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Pages

MindEvolution Theraphy

+6289678416066
Mon-Fri : 19.00-23.00
Saturday: 15.00-18.00

Statistik Blog

  • 13,812 hits

Twitter Updates

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

@shitadewi

shitadewi

shitadewi

D.Rishita Dewi | @shitadewi Shita Dewi, panggilan akrab dari Dian Rishita Dewi, adalah seorang yang selalu jatuh cinta pada kehidupan yang ada di sekelilingnya, baginya semesta adalah sumber inspirasi yang tak kunjung habis untuk dicermati, dipahami, diselami dan dituliskan kembali,… Dengan menulis, Shita Dewi yang lahir di tanggal 11 Januari 1977 ini percaya bahwa menulis adalah bagian dari penyelarasan antara jiwa dengan raganya, antara hati dengan alam pikir dan imajinasinya, penyeimbang ditengah kegiatannya sebagai wanita karir yang mengabdi di salah satu perusahaan Astra Group, certified hypnotherapist dan trainer seminar-workshop hypnotheraphy dan part-timer coach Marketing, konselor Tarot serta sebagai seorang istri dari George Erlangga Siregar. Sejak kecil Shita Dewi memilih menulis sebagai sarana untuk mewujudkan impian masa kecilnya meskipun hanya dalam bentuk buku harian yang beberapa diantaranya sempat dimuat di majalah sekolah dalam bentuk cerita pendek, namun secara tak terduga justru impian masa lalu yang tertuang dalam bentuk cerita itu telah mewujud dalam kehidupan nyata yang kini dia alami. Tak heran jika, Shita Dewi ingin tetap menulis, dengan keyakinan bahwa menulis akan membawanya pada perwujudan dari impian-impiannya. Melihat, Berpikir, Inspirasi, Berbuat, Menjadi

View Full Profile →

%d bloggers like this: