//
you're reading...
Sharing from Therapy Room

[sharing from therapy room]: Halau Galau

Gambar

Meminjam judul kolom tulisan sahabat saya, Kika yang muncul secara rutin di Jawa Pos tiap minggu, Halau Galau.

Itulah tema dari klien yang pernah saya tangani beberapa bulan yang lalu. Seorang gadis cantik, tomboy, tangguh sekaligus mudah yellow mellow  alias galau di sisi yang lain.

Tak terhitung mengeluh kesakitan karena migraen yang sering dia rasakan, belum lagi riwayat panjang keluar masuk rumah sakit akibat gangguan pencernaan, diare, maag, thypus, deman berdarah, bahkan terakhir dokter memintanya untuk sungguh-sungguh menjaga kondisi dan makanannya karena gastritis akut.

Sayang,…karena sakitnya kuliahnya sempat tertunda cukup lama hingga akhirnya dia lulus tahun lalu.

Secara fisik, sebut saja namanya Citra, adalah gadis yang beruntung. Dikaruniai tubuh yang atletis, tinggi, lansing semampai, dengan wajah yang cantik dan mata yang indah. Namun secara emosional, Citra tak setangguh perawakannya. Ia mudah sekali terbawa perasaan, baik positif maupun negatif dan itu terlihat jelas di status-status yang ia tuliskan baik di bbm, dan social media lainnya. You just can read her mood as easy as reading a book.

Misi halau galau menjadi penting karena perubahan mood yang cepat dan cenderung ekstrem ini berpengaruh pada kehidupannya, baik secara personal maupun di dunia social, termasuk di dunia kerja. Barusan dia kehilangan karir di salah satu bank terkemuka di Jawa Timur sebagai akibat dari pengendalian diri yang buruk dan kesulitan dia dalam beradaptasi dengan lingkungan, dalam waktu singkat saja, dia terasing dari lingkungan kerjanya, bahkan dia bermusuhan dengan rekan-rekan sekantor dan istri atasannya. Karena situasi makin lama makin sulit, dia pun terpaksa jobless demi kebaikan semua.

Selain itu, cerita kehidupannya menyiratkan adanya pola kejadian yang terjadi berulang-ulang. Pola yang menggambarkan dia melawan dia, dengan dia yang jatuh sebagai korban.

 “Poor me” pattern. Playing as victim.

Setelah beberapa kali ngobrol ringan via bbm dan telepon,akhirnya dia yakin bahwa apa yang dia alami tak sepenuhnya tidak bisa dikendalikan, bahwa dia pun punya andil membuat pola kejadian terus berulang karena itu bagian dari program pikiran yang bermasalah disebut engram, dia pun setuju untuk segera menghalau galaunya.

Istilah engram pertama kali digunakan oleh Richard Sermon, cendekiawan Jerman, tahun 1904. Sermon mendefinisikan engram sebagai impresi stimulus yang dapat diaktivasi ulang (reaktivasi) oleh pengulangan kondisi energetik yang mengendalikan penciptaannya.

Berdasar definisi Sermon, Hubbard, pencetus Dianetics dan Scientology, mendefinisi engram sebagai gambaran mental yang merupakan rekaman dari suatu pengalaman berisi rasa sakit, kondisi tidak sadar, atau ancaman terhadap keselamatan hidup, baik nyata atau hanya imajinasi.

Definisi lain menyatakan bahwa engram secara hipotetis adalah sarana penyimpanan jejak-jejak memori sejalan dengan perubahan biofisika atau biokimiawi di otak (dan jaringan otak lainnya) sebagai respon dari stimuli eksternal.

Adi W Gunawan, mentor saya, Presiden dari Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia, mendefinisikan engram sebagai rekaman peristiwa yang dialami seseorang, baik berupa kejadian nyata, kejadian dalam imajinasi, atau mimpi, di mana informasi ini masuk ke pikiran bawah sadar saat faktor kritis tidak aktif karena pengaruh obat, emosi yang intens, shock, rasa sakit fisik yang intens, atau sebab-sebab lain, dapat langsung aktif dan seterusnya memengaruhi perilaku sejak engram tercipta, atau dorman hingga teraktivasi dikemudian hari melalui pemicu yang serupa atau sama dengan komponen penyusun engram. Engram inilah yang membuat Citra mendorong dirinya sendiri untuk selalu menjadi korban.

Saya sebagai terapis diuntungkan dengan kepribadian Citra yang perasaannya sensitif, karena itu artinya Citra tergolong klien yang suggestible untuk masuk ke kondisi hypnosis.

Dari proses terapi akhirnya terbukti bahwa selama ini Citra dikendalikan oleh bagian dari dirinya yang menyebut dirinya Sadness atau kesedihan. Tak heran jika Citra sulit untuk merasa bahagia karena sadness menguasai dirinya, bahkan menekan sisi dirinya yang ceria. Perilaku bagian diri yang sedih ini ternyata dipicu oleh persaingan kakak-adek yang ketat saat Citra masih kecil serta relasi yang kurang harmonis dengan sang Papa yang digambarkan sebagai sosok yang memihak, pilih kasih, serta kurang perhatian pada keluarga dan tidak setia sebagai suami.

Pasca sesi terapi selama 4 jam non stop, Citra bangun dari kondisi hypnosis dengan keyakinan yang baru. Bahwa realitas di luar diri dapat diubah dengan mentransformasi realitas yang ada di dalam diri. Meng-optimalkan lingkaran kendali untuk memaksimalkan induksi pengaruh diri pada lingkungan. Butuh beberapa kali sesi terapi untuk benar-benar menguatkan perubahan pola pikir Citra yang baru, namun karena kendala kesempatan dan kurang kuatnya niatan Citra untuk sungguh-sungguh menghalau galaunya, maka sesi lanjutan belum terwujud hingga hari ini.

Meskipun begitu, perubahan telah terlihat dari sosok Citra saat ini, setidaknya kini saya jarang melihat perubahan picture profile disertai status yang dramatis dari account blackberry messaging-nya. Dari gonta ganti status berkali-kali dalam satu hari, kini semakin jarang.

Citra telah memulai langkah baru, memberi jeda bagi dirinya untuk tak mudah bereaksi sehingga mampu menghalau galau.

Alhamdulillah,…perubahan sedang berproses untuknya

 

Surabaya, 22 September 2013

Advertisements

About shitadewi

D.Rishita Dewi | @shitadewi Shita Dewi, panggilan akrab dari Dian Rishita Dewi, adalah seorang yang selalu jatuh cinta pada kehidupan yang ada di sekelilingnya, baginya semesta adalah sumber inspirasi yang tak kunjung habis untuk dicermati, dipahami, diselami dan dituliskan kembali,… Dengan menulis, Shita Dewi yang lahir di tanggal 11 Januari 1977 ini percaya bahwa menulis adalah bagian dari penyelarasan antara jiwa dengan raganya, antara hati dengan alam pikir dan imajinasinya, penyeimbang ditengah kegiatannya sebagai wanita karir yang mengabdi di salah satu perusahaan Astra Group, certified hypnotherapist dan trainer seminar-workshop hypnotheraphy dan part-timer coach Marketing, konselor Tarot serta sebagai seorang istri dari George Erlangga Siregar. Sejak kecil Shita Dewi memilih menulis sebagai sarana untuk mewujudkan impian masa kecilnya meskipun hanya dalam bentuk buku harian yang beberapa diantaranya sempat dimuat di majalah sekolah dalam bentuk cerita pendek, namun secara tak terduga justru impian masa lalu yang tertuang dalam bentuk cerita itu telah mewujud dalam kehidupan nyata yang kini dia alami. Tak heran jika, Shita Dewi ingin tetap menulis, dengan keyakinan bahwa menulis akan membawanya pada perwujudan dari impian-impiannya. Melihat, Berpikir, Inspirasi, Berbuat, Menjadi

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

September 2013
M T W T F S S
« Sep   Oct »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Pages

MindEvolution Theraphy

+6289678416066
Mon-Fri : 19.00-23.00
Saturday: 15.00-18.00

Statistik Blog

  • 14,769 hits

Twitter Updates

@shitadewi

shitadewi

shitadewi

D.Rishita Dewi | @shitadewi Shita Dewi, panggilan akrab dari Dian Rishita Dewi, adalah seorang yang selalu jatuh cinta pada kehidupan yang ada di sekelilingnya, baginya semesta adalah sumber inspirasi yang tak kunjung habis untuk dicermati, dipahami, diselami dan dituliskan kembali,… Dengan menulis, Shita Dewi yang lahir di tanggal 11 Januari 1977 ini percaya bahwa menulis adalah bagian dari penyelarasan antara jiwa dengan raganya, antara hati dengan alam pikir dan imajinasinya, penyeimbang ditengah kegiatannya sebagai wanita karir yang mengabdi di salah satu perusahaan Astra Group, certified hypnotherapist dan trainer seminar-workshop hypnotheraphy dan part-timer coach Marketing, konselor Tarot serta sebagai seorang istri dari George Erlangga Siregar. Sejak kecil Shita Dewi memilih menulis sebagai sarana untuk mewujudkan impian masa kecilnya meskipun hanya dalam bentuk buku harian yang beberapa diantaranya sempat dimuat di majalah sekolah dalam bentuk cerita pendek, namun secara tak terduga justru impian masa lalu yang tertuang dalam bentuk cerita itu telah mewujud dalam kehidupan nyata yang kini dia alami. Tak heran jika, Shita Dewi ingin tetap menulis, dengan keyakinan bahwa menulis akan membawanya pada perwujudan dari impian-impiannya. Melihat, Berpikir, Inspirasi, Berbuat, Menjadi

View Full Profile →

%d bloggers like this: