//
you're reading...
Enlightenment Corner

[enlightenment] : Pentingkah Kecerdasan Emosional ?

se10

Semalam, rasa penat dan kekecewaan dalam hati seakan terhapus berkat bincang singkat namun inspiratif  dengan sahabat lama. Yang menjadi hot topik malam itu adalah tentang team work.

Untuk membentuk teamwork yang kuat tentunya tidak lepas dari team player yang memiliki potensi dan kontribusi bagi team. Potensi yang utama justru bukan kecerdasan intelektual, namun kecerdasan emosional. Lho kok?

Saya ambil contoh, dalam proses rekrutmen karyawan, siapa yang Anda pilih: kandidat dengan tingkat kecerdasan intelektual (IQ) sedikit di atas rata-rata, namun menunjukkan kematangan emosi dalam menghadapi situasi sulit, mampu berhubungan baik dengan orang lain? Atau kandidat dengan IQ super yang cepat belajar hal baru, namun emosinya datar dan cenderung hanya memikirkan diri sendiri (self-centered)?

Ya, Anda tentu lebih memilih kandidat pertama, bukan? Jika Anda memilih kandidat yang kedua, bisa dibayangkan, besarnya konflik yang bisa timbul di dalam tim, Apalah artinya kecerdasan intelektual namun minim empati dan sulit bekerjasama dengan orang lain? Dulu kita meyakini IQ adalah penentu keberhasilan individu di pekerjaan, namun semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa IQ memang bukan segala-galanya.

Dulu, kecerdasan intelektual (Intellectual Quotient) dianggap sesuatu yang amat special dalam episode kesuksesan seseorang. Seolah-olah, orang ber-IQ hebat sudah dapat garansi bakal sukses. Dalam sudut pandang berbeda, Spencer and Spencer (1993) dan Daniel Goleman (1998) menyatakan bahwa justru kecerdasan emosional (Emotional Intelligences, EI) yang sangat berpengaruh dalam kesuksesan seseorang.

Dalam artikel “Intelligence is Overrated: What You Really Need to Succeed”, Keld Jensen memaparkan betapa John F. Kennedy yang telah terbukti sukses dengan hanya memiliki IQ 119. Diperkuat dengan penelitian terbaru yang mengatakan bahwa 85 persen kesuksesan individu ditentukan oleh faktor-faktor “human engineering”, sementara sisanya, yaitu sebesar 15 persen, berasal dari keterampilan teknis, dan bukan semata kecerdasan umum. Daniel Kahneman, psikolog Amerika pemenang hadiah nobel, menyatakan bahwa kita terbukti cenderung memilih berbisnis dengan orang yang kita sukai, ketimbang individu yang tidak kita sukai. Siapa bilang faktor emosi tidak terlibat dalam bisnis? chemistry bukan hanya untuk urusan jodoh saja,…

Bagi siapa saja, apapun profesi dan posisi jabatan di pekerjaannya, EQ berkontribusi 66 persen dan IQ hanya punya kontribusi sebesar 33 persen saja. Khusus untuk orang di posisi manajerial, EQ tetap punya kontribusi lebih besar daripada IQ. EQ dan IQ secara berturut-turut menyumbang kontribusi 85 persen dan 15 persen.

Coba cermati pula nilai Emotional Intelligence dalam konteks hubungan antara produktivitas dan kompleksitas pekerjaan. Di pekerjaan kategori rendah (jenis pekerjaan teknis, seperti operator mesin produksi dan office boy), orang bernilai Emotional Intelligence – EI tinggi lebih produktif 3 kali lipat daripada orang bernilai EI rendah. Orang bernilai EI tinggi lebih produktif 12 kali lipat dibanding orang bernilai EI rendah, hal ini berlaku di jenis pekerjaaan menengah seperti sales dan mekanik. Lalu bagaimana dengan posisi pekerjaan kategori tinggi, seperti dokter dan konsultan? Sama saja. Orang bernilai EI tinggi lebih produktif 127 kali lipat dibanding orang bernilai EI rendah. Yang menjadi pembeda bagi orang-orang cerdas secara emosional adalah kemauan dan kemampuan.

Banyak yang berpendapat bahwa kekuatan emosi kita tergantung pada pasang surut kehidupan yang kita lalui, sehingga sulit untuk dimodifikasi karena begitu fluktuatif. Ini jelas keliru, karena kecerdasan emosi tidak pasif, justru sangat evolutif, seiring dengan evolusi kesadaran sang manusia. Sumber kekayaan manusia, sebagai mahluk tertinggi, selain pada akal budinya, juga pada emosinya. Tidak salah bila Daniel Goleman membuat heboh dunia dengan bukunya, Emotional Intelligence: The Ability to Identify, Assess, and Control the Emotions of Oneself, of Others, and of Groups.

Apa itu kecerdasan emosional? Berdasarkan kajian Daniel Goleman dan Hay Group, orang itu bisa dilatih agar punya self-awareness, self-management, social awaraness, dan relationship management. Yang menarik dari kajian tersebut, kesuksesan itu tak ditentukan faktor kemampuan diri saja yaitu self-awareness, self-management tapi kesadaran untuk menata hubungan dengan orang lain, adalah faktor penting lain yang tak bisa disepelekan.

Mengingat perannya yang besar, penting untuk bisa memanfaatkan emosi demi untuk meningkatkan produktivitas. Bukankah banyak penelitian yang berhasil membuktikan bahwa memiliki perasaan feel good dalam bekerja akan mendorong kita untuk memberikan yang terbaik? 

Sebelum membahas tentang bagaimana meningkatan kecerdasan emosional guna meningkatkan kualitas hidup anda, berikut ini adalah 5 Wilayah Kecerdasan Emosi menurut Daniel Goleman. 

  1. Kemampuan Mengenali Emosi Diri –> Mengenal perasaan diri sendiri ketika emosi itu muncul. Seseorang yang mampu mengenali emosinya akan memiliki kepekaan yang tajam atas perasaan yang muncul seperti senang, bahagia, sedih, marah, benci dan sebagainya.
  2. Kemampuan Mengelola Emosi –> Kemampuan mengendalikan perasaan diri sendiri untuk tidak meledak-ledak yang akibatnya memengaruhi perilaku secara salah. Meski sedang marah, orang yang mampu mengelola emosinya akan mengendalikan kemarahannya dengan baik, tidak teriak-teriak atau bicara kasar, misalnya.
  3. Kemampuan Memotivasi Diri –> Dapat memberikan semangat pada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Dengan begitu, diri memiliki harapan dan optimisme yang tinggi sehingga memiliki semangat untuk melakukan suatu aktivitas.
  4. Kemampuan Mengenali Emosi Orang Lain –> Kemampuan ini sering juga disebut sebagai kemampuan berempati. Orang yang memiliki empati cenderung disukai orang lain.
  5. Kemampuan Membina Hubungan –> Seseorang dengan kemampuan ini cenderung punya banyak teman, pandai  bergaul dan  populer.

Dalam bukunya berjudul “The Emotional Revolution”, seorang seorang psychiatrist dan peneliti seasonal affective disorder yaitu Norman Rosenthal, MD, menjelaskan tentang 10 cara untuk meningkatkan kecerdasan emosional, yaitu :

  1. Coba rasakan dan pahami perasaan anda.
  2. Jangan menilai atau mengubah perasaan Anda terlalu cepat. Emosi yang sehat sering naik dan turun dalam sebuah gelombang, meningkat hingga memuncak, dan menurun secara alami. Amati perasaan anda, jangan memotong gelombang perasaan Anda sebelum sampai puncak.
  3. Lihat bila Anda menemukan hubungan antara perasaan Anda saat ini dengan perasaan yang sama di masa lalu. Saat perasaan yang sulit muncul, tanyakan pada diri sendiri, “Kapan saya merasakan perasaan ini sebelumnya?” Melakukan ini dapat membantu Anda untuk menyadari kemungkinan emosi saat ini adalah cerminan dari situasi saat ini, atau kejadian di masa lalu Anda.
  4. Hubungkan perasaan Anda dengan pikiran Anda. Sering kali, salah satu dari perasaan kita akan bertentangan dengan pikiran. Itu normal. Mendengarkan perasaan Anda adalah seperti mendengarkan semua saksi dalam kasus persidangan. Hanya dengan mengakui apa yang dikatakan para saksi di dalam persidangan, Anda akan dapat mencapai keputusan terbaik. Itu pula yang terjadi pada anda.
  5. Dengarkan tubuh Anda. Pusing di kepala saat bekerja mungkin merupakan petunjuk bahwa pekerjaan Anda adalah sumber stres. Dengarkan tubuh Anda dengan sensasi dan perasaan, anda akan peka apa yang sedang dikatakan oleh tubuh anda.
  6. Jika Anda tidak tahu bagaimana perasaan Anda, mintalah bantuan orang lain.
  7. Masuk ke alam bawah sadar Anda. Bagaimana Anda lebih menyadari perasaan bawah sadar Anda? Coba dalam keadaan santai, biarkan pikiran Anda berkeliaran dengan bebas. Anda juga bisa melakukan analisis mimpi. Berikan perhatian khusus pada mimpi yang terjadi berulang-ulang karena bisa jadi mimpi anda menyimpan pesan untuk anda, atau melibatkan kuatnya beban emosi yang anda simpan.  
  8. Tanyakan pada diri Anda: Apa yang saya rasakan saat ini. Jika perasaan Anda terlihat ekstrim pada suatu hari, luangkan waktu satu atau dua menit untuk memikirkan hubungan antara pikiran dengan perasaan Anda.
  9. Tulislah pikiran dan perasaan Anda ketika sedang menurun. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa dengan menuliskan pikiran dan perasaan dapat sangat membantu mengurai dan mengenali emosi Anda.
  10. Tahu kapan waktu untuk kembali melihat keluar. Ada saatnya untuk berhenti melihat ke dalam diri Anda dan mengalihkan fokus Anda ke luar. Kecerdasan emosional tidak hanya melibatkan kemampuan untuk melihat ke dalam, tetapi juga untuk menjembatani anda dengan dunia sekitar Anda

Jadi apakah kecerdasan emosional penting?

Sila anda renungkan garis besar dari tulisan diatas dan tanyakan pada diri anda sendiri, bagaimana anda memahami diri anda sendiri hingga hari ini dan apakah dampaknya bagi kualitas hidup anda?

Surabaya, 23 September 2013

Advertisements

About shitadewi

D.Rishita Dewi | @shitadewi Shita Dewi, panggilan akrab dari Dian Rishita Dewi, adalah seorang yang selalu jatuh cinta pada kehidupan yang ada di sekelilingnya, baginya semesta adalah sumber inspirasi yang tak kunjung habis untuk dicermati, dipahami, diselami dan dituliskan kembali,… Dengan menulis, Shita Dewi yang lahir di tanggal 11 Januari 1977 ini percaya bahwa menulis adalah bagian dari penyelarasan antara jiwa dengan raganya, antara hati dengan alam pikir dan imajinasinya, penyeimbang ditengah kegiatannya sebagai wanita karir yang mengabdi di salah satu perusahaan Astra Group, certified hypnotherapist dan trainer seminar-workshop hypnotheraphy dan part-timer coach Marketing, konselor Tarot serta sebagai seorang istri dari George Erlangga Siregar. Sejak kecil Shita Dewi memilih menulis sebagai sarana untuk mewujudkan impian masa kecilnya meskipun hanya dalam bentuk buku harian yang beberapa diantaranya sempat dimuat di majalah sekolah dalam bentuk cerita pendek, namun secara tak terduga justru impian masa lalu yang tertuang dalam bentuk cerita itu telah mewujud dalam kehidupan nyata yang kini dia alami. Tak heran jika, Shita Dewi ingin tetap menulis, dengan keyakinan bahwa menulis akan membawanya pada perwujudan dari impian-impiannya. Melihat, Berpikir, Inspirasi, Berbuat, Menjadi

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

September 2013
M T W T F S S
« Sep   Oct »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Pages

MindEvolution Theraphy

+6289678416066
Mon-Fri : 19.00-23.00
Saturday: 15.00-18.00

Statistik Blog

  • 13,812 hits

Twitter Updates

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

@shitadewi

shitadewi

shitadewi

D.Rishita Dewi | @shitadewi Shita Dewi, panggilan akrab dari Dian Rishita Dewi, adalah seorang yang selalu jatuh cinta pada kehidupan yang ada di sekelilingnya, baginya semesta adalah sumber inspirasi yang tak kunjung habis untuk dicermati, dipahami, diselami dan dituliskan kembali,… Dengan menulis, Shita Dewi yang lahir di tanggal 11 Januari 1977 ini percaya bahwa menulis adalah bagian dari penyelarasan antara jiwa dengan raganya, antara hati dengan alam pikir dan imajinasinya, penyeimbang ditengah kegiatannya sebagai wanita karir yang mengabdi di salah satu perusahaan Astra Group, certified hypnotherapist dan trainer seminar-workshop hypnotheraphy dan part-timer coach Marketing, konselor Tarot serta sebagai seorang istri dari George Erlangga Siregar. Sejak kecil Shita Dewi memilih menulis sebagai sarana untuk mewujudkan impian masa kecilnya meskipun hanya dalam bentuk buku harian yang beberapa diantaranya sempat dimuat di majalah sekolah dalam bentuk cerita pendek, namun secara tak terduga justru impian masa lalu yang tertuang dalam bentuk cerita itu telah mewujud dalam kehidupan nyata yang kini dia alami. Tak heran jika, Shita Dewi ingin tetap menulis, dengan keyakinan bahwa menulis akan membawanya pada perwujudan dari impian-impiannya. Melihat, Berpikir, Inspirasi, Berbuat, Menjadi

View Full Profile →

%d bloggers like this: